MALANG – Tanaman sorgum di Indonesia mulai menjadi perhatian sejak tahun 1960. Hingga tahun 2019, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas 26 varietas sorgum sebagai upaya mendukung program pangan alternatif dan mendorong masyarakat untuk menanamnya. Sorgum merupakan tanaman semusim yang potensial dikembangkan sebagai pangan, pakan ternak, dan energi.

Kandungannya meliputi karbohidrat (sekitar 70%), protein (8 -12%) yang setara atau lebih l tinggi dari terigu/beras, serta lemak (2 -6%) yang lebih tinggi d ari beras dan terigu.  Sentra produksi sorgum terbesar di Indonesia berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Utara. Hampir seluruh lahan di Indonesia sangat sesuai untuk pengembangan sorgum, dengan potensi terluas  di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Sementara itu, luas lahan sorgum di Sumatera Utara menempati peringkat ke -16 nasional.

Kelebihan sorgum adalah kemampuannya dibudidayakan di lahan suboptimal (kering dan marginal) sepanjang tahun pada musim hujan dan kemarau. Tanaman ini juga memiliki kemampuan tumbuh kembali setelah dipanen melalui teknik ratun, yaitu dengan memotong batang  utama hingga menyisakan satu buku. Kemampuan meratun ini dapat mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan efisiensi pemupukan.

Adanya keragaman hasil pada tanaman ratun menunjukkan peluang untuk pengembangan sorgum melalui perakitan varietas. Varietas dengan daya ratun tinggi dapat memiliki produktivitas yang sama dengan tanaman utama, memungkinkan panen hingga 2 -3 kali secara opt imal. Faktor pendukung daya ratun tinggi meliputi kemampuan tanaman untuk mempertahankan kehijauan daun dan umur panen yang sama dengan tanaman utama. Penanaman secara ratun masih mampu memberikan hasil sampai ratun ketiga.

Hasil pertanaman ratun pertama atau kedua umumnya bisa lebih tinggi dari pertanaman pertama. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan hasil biji tanaman ratun umumnya lebih rendah dibanding tanaman utama, dengan tingkat penurunan yang sangat beragam. Teknik ratun tidak memerlukan benih melainkan mengandalkan regenerasi tunas, dan sangat berguna untuk budidaya di tanah dengan kelembaban terbatas. Sistem ini mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biomassa atau biji secara berkesinambungan, serta dapat menin gkatkan hasil dan pendapatan petani.

Kemampuan ratun sorgum banyak menarik perhatian peneliti, mendorong berbagai penelitian mengenai potensi produksi ratun, kesesuaian sebagai sumber pangan, evaluasi pertumbuhan dan hasil pada jarak tanam berbeda, serta identifikasi genotipe dengan produksi biomassa dan daya ratun tinggi. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2020, beberapa daerah di wilayah Sumatera Utara yang masih membudidayakan sorgum adalah Langkat, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai.

Daerah -daerah tersebut secara  terus menerus membudidayakan tanaman sorgum dengan mengunakan teknik ratun dan biji dalam skala kecil. Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk dapat memberikan informasi mengenai daerah sebaran sorgum lokal di Sumatera Utara, pengembangan teknik ra tun dan analisis produksi hasil genotip sorgum lokal.Penelitian ini melibatkan tiga tahap penting.

Tahap pertama adalah survei lokasi sorgum di Sumatera Utara, bertujuan mengidentifikasi kesesuaian lingkungan tumbuh berdasarkan karakteristik iklim dan tanah di area tersebut. Tahap kedua kemudian dilanjutkan dengan pengujian ketahanan genotipe sorgum lokal Sum atera Utara melalui pembudidayaan menggunakan teknik ratun, yang dilakukan dengan metode rancangan petak terpisah. Terakhir, tahap ketiga berfokus pada evaluasi tingkat produksi ratun dari sorgum lokal di Sumatera Utara.”

Penelusuran terhadap lokasi tumbuh sorgum ditemukan sembilan genotipe sorgum lokal yang tersebar di Kabupaten Langkat, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menunjukkan adanya variasi lingkungan tumbuh yang signifikan. Genotipe -genotipe ini mampu beradaptasi pada rentang ketinggian tempatyang luas, dari 6 mdpl hingga 1200 mdpl. Namun, analisis iklim mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi (>1200 mm/tahun) merupakan faktor pembatas utama bagi kesesuaian lokasi tumbuh.

Dari sisi tanah, ordo  tanah yang dominan di lokasi tumbuh sorgum lokal adalah Ultisol dan Andisol, yang dicirikan oleh pH asam serta ketersediaan nitrogen dan fosfor yang rendah. Meskipun kandungan kalium bervariasi, potensi peningkatan hasil produksi sorgum di lokasi tersebut  dapat dicapai melalui strategi pengelolaan tanah yang tepat, termasuk koreksi pH, pemupukan berimbang, serta pemanfaatan populasi mikroorganisme pelarut fosfat yang ditemukan bervariasi antar lokasi  Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa genotipe sorgum lokal yang menunjukkan respons bervariasi terhadap sistem ratun.

Genotipe Beringin (G3) adalah kandidat kuat untuk sistem ratun karena performa vegetatifnya yang stabil (tinggi, jumlah daun, diameter batang besar) pasca -pemotongan, serta berpotensi menghasilkan produksi stabil dan tinggi, meskipun kadar proteinnya rendah. Genotipe Selotong (G1) menunjukkan performa sedang namun stabil dan cocok untuk sistem ratun, terutama dari as pek mutu biji, meski hasil optimal tidak selalu dipertahankan pada siklus ratun selanjutnya. Sebaliknya, Genotipe Pertumbukan (G2) dan Pengajahan (G4) kurang ideal untuk sistem ratun berulang. Pertumbukan menunjukkan performa tidak stabil dan penurunan mut u gizi signifikan pasca -pemotongan, sementara Pengajahan lebih sesuai untuk produksi jangka pendek (R0 -R1) karena juga mengalami penurunan mutu gizi yang nyata setelah pemotongan. Potensi hasil produksi empat genotipe sorgum lokal Sumatera Utara dengan teknik ratun menunjukkan keragaman, namun semuanya memiliki kemampuan untuk diratun.

Genotipe Pengajahan (G4) menampilkan respons yang sangat positif terhadap teknik ratun, dengan peningkatan produksi yang konsisten dari tanaman awal (2.60 ha) hingga ratun ketiga (3.07 ha). Demikian pula, Genotipe Beringin (G3) menunjukkan respons positi f secara keseluruhan, dengan peningkatan produksi pada ratun pertama dan ketiga (dari 3.09 ha menjadi 3.23 ha dan 3.19 ha), meskipun sempat mengalami sedikit penurunan di ratun kedua.

Genotipe Selotong (G1) menunjukkan stabilitas yang baik dalam mempertaha nkan tingkat produksi; meskipun sempat fluktuasi dengan penurunan di ratun pertama (dari 3.38 ha menjadi 2.96 ha), produksinya kembali meningkat dan menyamai tingkat awal pada ratun ketiga (3.38 ha). Berbeda dengan genotipe lainnya, Genotipe Pertumbukan (G 2) menunjukkan penurunan produksi yang jelas setelah siklus ratun pertama dan cenderung stabil pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan tanaman awal, mengindikasikan kurangnya respons positif terhadap teknik ratun untuk mempertahankan hasil tinggi.

Harapan peneliti kedepanya agar pemerintah daerah dan pihak terkait dapat  menciptakan kebijakan  dan yang mendukung terbukanya pasar produksi sorgum  sehingga dapat meningkatkan minat petani untuk membudidaya sorgum secara luas petani perlu diarahkan untuk mengadopsi inovasi pertanian yang ramah lingkungan dan hemat biaya. Mendorong pengembangan teknologi tepat guna serta program pelatihan yang terfokus pada efisiensi produksi dan pengelolaan usaha tani yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.

Peneliti juga mengharapkan bahwa informasi genetik dari genotipe sorgum lokal Sumatera Utara, yang mungkin memiliki karakteristik adaptif unik terhadap  lingkungan setempat, dapat digunakan sebagai fondasi krusial untuk menjaga  keanekaragaman hayati genetik  dan mencegah erosi genetik, serta menjadi sumber  daya esensial dalam upaya pengembangan varietas baru yang lebih tangguh dan  produktif di masa depan .

***

*) Oleh: Mukhtar Yusuf, Mahasiwa Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

*ript*