Manajemen Ekowisata Secara Terintegritas dan Berkelanjutan di Kawasan Koto Panjang Kampar Riau

Ekowisata di Provinsi Riau sudah mulai diterapkan. Masyarakat Provinsi Riau terdiri dari berbagai suku, antara lain suku melayu dan suku masyarakat pedalaman seperti suku sakai, talang mamak, laut, bonai, hutan serta suku lainnya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri. Potensi tersebut menjadikan Provinsi Riau terus berupaya mengembangkan objek wisata yang sangat menarik. Program yang dilakukan adalah menggali potensi dan daya tarik wisata di PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Ada beberapa objek wisata yang ada di Kawasan Waduk PLTA Koto Panjang yang terdiri dari pulau qeis, pulau wahid, puti island, puncak kompe, puncak ulu kasok, Ar-royan island, puncak tuah, bukit kelok indah, tepian mahligai, danau rusa, hendferland, Desa Wisata Kampung Patin, umbai padang island, raja onam kampar, talau pusako dan Candi Muara Takus. Dari 16 objek daya tarik wisata yang terdapat di Kawasan PLTA Koto Panjang, ada tiga objek objek yang akan diteliti terkait Manajemen Ekowisata Secara Terintegrasi dan Berkelanjutan di Kawasan Plta Koto Panjang Kampar Riau. Adapun objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan Danau Rusa yaitu Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Tiga objek wisata tersebut memiliki potensi daya tarik dan posisi strategis yang berada di tengah-tengah Kawasan PLTA Koto Panjang. Sosial ekonomi masyarakat mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan karena dengan akan dibukannya jalan tol yang semula jarak tempuh dibutuhkan waktu selama 3 jam menjadi 1,5 jam dari Pekanbaru menuju Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Kawasan Danau Rusa memiliki potensi apabila dikembangkan karena sesuai dengan permintaan pasar pariwisata secara keseluruhan apalagi yang bergerak ke arah back to nature, back to local culture dan Sport Tourism. Danau Rusa adalah salah satu objek wisata yang potensial untuk itu memerlukan penanganan maksimal. Posisi lokasi objek wisata Danau Rusa sangat strategis, karena terletak di jalan lintas provinsi tepatnya 34 km dari kota Bangkinang. Danau Rusa memiliki luasan sekitar 40 Hektar yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kampar dan memiliki Panorama alam yang sangat indah. Danau Rusa juga pernah dijadikan Venues Olahraga Dayung dan Sirkuit Balap Motor dan Sircuit Of Road. Tidak jauh dari Danau Rusa terdapat Desa Koto Mesjid atau disebut dengan Desa Wisata Kampung Patin. Desa ini memiliki komoditas unggulan yaitu ikan patin dan memiliki industri pengolahan perikanan atau yang disebut dengan sentra produksi perikanan (Sari et al., 2023). Kegiatan perikanan di Desa Koto Mesjid ini terdiri dari kegiatan budidaya ikan di kolam dan keramba, sedangkan untuk ikan yang dihasilkan adalah ikan patin. Ikan patin merupakan komoditas unggulan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Maka dari itu masyarakat Desa Koto Mesjid Kabupaten Kampar memanfaatkan ikan patin sebagai usaha untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonominya. Sentra produksi perikanan yang didirikan pemerintah guna untuk mewadahi masyarakat Desa Kampung Patin yang memiliki usaha sehingga mempermudah dalam proses produksi. Usaha industri sentra pengolahan di Desa Koto Mesjid mendapat julukan sebagai kampung patin dengan satu rumah satu kolam ikan. Sentra industri pengolahan ikan yang ada di Desa Koto Mesjid diharapkan agar dapat terus terjaga keberadaannya serta Kawasan PLTA tersebut dapat menjadi destinasi wisata nasional di Provinsi Riau yang berbasis pada alam, sejarah dan kebudayaan lokal. Untuk itu pengembangan manajemen ekowisata di Kawasan PLTA Koto Panjang Kampar Riau perlu dilakukan sebagai langkah untuk menjaga kawasan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Jika pariwisata dikelola dengan cermat akan memiliki potensi perekonomian yang menjadi motivasi berbagai pihak. Sebuah sistem manajemen yang terintegrasi dikonseptualisasikan sebagai satu proses terpadu yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut antara manusia, informasi, material, infrastruktur dan sumberdaya keuangan dan sumberdaya alam untuk mencapai tujuan akhir yang berhubungan dengan kepuasan dari berbagai pemangku kepentingan (Streimikiene et al., 2021). Selain Danau Rusa dan Desa Wisata Kampung Patin, Candi Muara Takus juga memiliki potensi berupa peninggalan sejarah Budha yang ada di Provinsi Riau, dibangun antara abad IV dan IX, sebagai bukti agama Budha pernah berkembang di kawasan ini. Candi ini berukuran 7 x 7 meter, dengan tinggi 14 meter, dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan yang dianggap penting bagi komunitas Budha. Terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, berjarak sekitar 60 Km dari ibukota kabupaten dan 121 Km dari Ibukota Provinsi. Bangunan Candi yang terdiri dari Mahligai Stupa Candi Tua, Candi Bungsu, Pelangka dan tempat pembakaran tulang belulang manusia, yang merupakan pusat agama Budha dan pusat perdagangan dari kedatuan Sriwijaya. Candi ini didirikan sebagai penghormatan terhadap seorang putri India yang datang ke negeri ini, ia meninggal tenggelam di sungai Kampar. Daya tarik objek wisata ini adalah keindahan bangunan candi yang berusia ratusan tahun yang arsitekturnya mirip dengan bangunan pada masa Asyoka di India dan ada pula persamaannya dengan arsitektur dari Birma dan arsitektur Bihara Bahal di Padang Sidempuan. Kondisi fisik bangunan Candi Muara Takus saat ini cukup baik, karena pengelolaan dan pemugaran yang dilakukan secara berkala. Selain dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri, candi ini juga cukup diminati oleh wisatawan luar negeri yang mayoritas berasal dari Belanda, Inggris dan Jerman. Bahkan jumlahnya mencapai 2.500 orang per tahun (Disparekraf Riau 2023). Beberapa permasalahan umum yang membuat manajemen yang terintegrasi dan berkelanjutan diperlukan antara Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin, dan Candi Muara Takus adalah: Pengelolaan Terpisah yang Kurang Efektif: Jika ketiga lokasi ini dikelola secara terpisah tanpa koordinasi, bisa terjadi ketidakefisienan dalam alokasi sumber daya, pemasaran, dan pengembangan infrastruktur. Misalnya, promosi pariwisata yang tidak terkoordinasi bisa menyebabkan kurangnya visibilitas atau ketidakseimbangan dalam kunjungan wisatawan ke setiap lokasi. Persaingan Sumber Daya dan Konflik Kepentingan: Tanpa manajemen yang terintegrasi, bisa muncul konflik kepentingan antara pihak-pihak yang terlibat, seperti dalam jumlah kunjungan wisatawan yang menurun, pengalaman wisata yang kurang menarik, wisatawan mencari pengalaman yang holistik dan memuaskan. Tanpa integrasi, wisatawan mungkin merasa kesulitan dalam mengakses informasi, transportasi, atau fasilitas yang konsisten antara ketiga Lokasi. Sehingga bisa menurunkan daya tarik destinasi dan mengurangi potensi kunjungan ulang. Kurangnya keberlanjutan sosial dan ekonomi, Jika tidak dikelola dengan berkelanjutan, keuntungan ekonomi dari pariwisata mungkin tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal. Tanpa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan, manfaat ekonomi bisa lebih banyak dinikmati oleh pihak luar, meninggalkan komunitas