Pembentukan Strain Baru Final Stock Ayam Kampung Petelur Super “UMM Chick”
TIMESINDONESIA, MALANG – Ayam kampung secara umum merupakan tipe dwiguna, yaitu diambil manfaatnya sebagai penghasil daging dan sekaligus telur. Ayam kampung mempunyai banyak keunggulan di samping juga mempunyai kelemahan. Daging dan telur ayam kampung lebih disukai konsumen, karena lebih lezat dibanding daging dan telur ayam komersial. Budidaya ayam kampung lebih banyak dilakukan secara tradisonal dengan cara umbaran dan manajemen pemeliharaan seadanya. Selain itu belum banyak dilakukan program breeding untuk menghasilkan bibit ayam kampung yang mampu berproduksi telur tinggi. Berangkat dari ketertarikannya akan ayam kampung membuat Suyatno, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang melakukan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan Final Stock ayam kampung petelur super melalui program breeding yang mengombinasikan sistem perkawinan, pengaturan jalur perkawinan serta penerapan metode seleksi yang paling baik. Menggunakan ayam kampung sumber genetik yang ada masyarakat secara luas, ia memilih 4 jenis ayam kampung endemik Jawa Timur, yaitu ayam kampung: Putih (P), Lurik Merah (L), Wareng (W) dan ayam yang ada di sekitar Bromo-Tengger-Semeru sering disebut oleh masyarakan ayam Ranupane (R). Ayam-ayam dari populasi dasar ini dijadikan sebagai Great Grand Parent Stock (GGPS) atau biasa disebut “kakek-buyut”. Melalui penerapan sistem perkawinan (outbreeding, crossbreeding dan reciprocal crossbreeding) dan pengaturan jalur perkawinan, GGPS ini akan menghasilkan calon Grand Parent Stock (GPS; “kakek-nenek”) yang berlanjut menghasilkan calon Parent Stock (PS; “pejantan-induk”) hingga keturunan akhir yang disebut Final Stock (FS). Selama program breeding, mahasiswa yang akrab dipanggil pak Yatno ini melakukan seleksi dengan ketat di semua tahapan, baik dalam menerapkan metode seleksi individu, seleksi famili, maupun cage selection (metode seleksi berdasarkan petak kandang). Seleksi berdasarkan Nilai Pemuliaan (Breeding Value) dari karakteristik berat badan umur 3 bulan dan produksi telur (HDP). Estimasi mutu genetik didasarkan pada estimasi Nilai Pemuliaan yang melibatkan beberapa analisis statistik, yaitu: analisis variansi (analisis ragam; σ2), koefisien pewarisan (heritabilitas; h2), koefisien keragaman, korelasi genetik, respon seleksi (R), dan analisis yang lain. Selain itu dilakukan pengukuran pengamatan pada karakteristik kualitatif dan kuantitatif sebagai bahan informasi pendukung performans ayam. Hasil dari kombinasi semua aktivitas breeding akan diperoleh GGPS terbaik untuk dijadikan tetua, GPS terbaik sebagai penurun Parent Stock, jenis Parent Stock terbaik sebagai penurun atau penghasil bibit Final Stock, serta ayam Final stock terbaik yang akan dipelihara sebagai penghasil telur. Dari 3 tipe perkawinan (Mating Type), Suyatno mendapati hasil bahwa Mating Type III merupakan jalur terbaik dibanding 2 Mating Type lainnya. Pada Mating Type III yang dipilih tidak semua jalur perkawinan digunakan, tetapi hanya jalur perkawinan terbaik saja, yaitu: (1) Jalur pejantan diperoleh dari GPS P jantan x R betina yang menghasilkan calon PS-PR jantan; kemudian dari jalur induk dilakukan perkawinan antara GPS L jantan x W betina akan menghasilkan calon PS-LW betina. Setelah dilakukan seleksi ketat maka PS akan dipilih yang baik untuk disilangkan, sehingga dihasilkan FS-PRLW; (2) Jalur pejantan hasil perkawinan reciprocal crossbeeding GPS R jantan x P betina yang menghasilkan calon PS-RP jantan; sedangkan jalur induk merupakan hasil perkawinan perkawinan GPS W jantan x L betina yang hasilnya calon PS-WL betina. Hasil perkawinan dan seleksi PS RP dan LW terpilih adalah FS RPWL. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, ia menyimpulkan bahwa melalui kombinasi kegiatan penerapan sistem perkawinan, pengaturan jalur perkawinan serta penerapan metode seleksi yang tepat seperti yang sudah dilakukan tim peneliti ternyata dapat menghasilkan strain baru Final Stock Ayam Kampung Petelur Super “UMMChick Petelur” dengan kemampuan produksi rata-rata (HDP) mencapai 58% lebih dan bahkan ada yang mencapai >76% pada saat pengukuran tertentu. Kedua Final Stock (PRLW dan RPWL) mempunyai performans HDP relatif sama setelah dilakukan Uji “t”, artinya kedua strain baru ini dapat dijadikan sebagai Final Stock Ayam Kampung Petelur Super untuk dibudidayakan sebagai penghasil telur ayam kampung. ***) Oleh: Suyatno, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang
Tantangan Petani Konvensional di Ogan Ilir dan Masalah Stunting yang Mengancam Masa Depan Anak-Anak
Petani konvensional, yang mengelola sekitar 90% lahan pertanian dunia, berperan penting dalam keberlanjutan produksi pangan global. Namun, di balik kontribusi signifikan ini, mereka menghadapi tantangan besar. Sebagian besar petani ini hidup di pedesaan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kehidupan mereka kerap diwarnai oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan akses terbatas terhadap sumber daya alam. Di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tantangan ini semakin diperburuk oleh tingginya prevalensi stunting pada anak-anak, sebuah krisis yang mengancam masa depan generasi muda di wilayah ini. Stunting, kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, menjadi salah satu masalah utama kesehatan anak-anak di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan signifikan prevalensi stunting di Sumatera Selatan, dari 19,3% pada tahun 2016 menjadi 22,8% pada tahun 2017. Keadaan ini mengundang perhatian pemerintah, yang melalui Peraturan Presiden RI Nomor 72 Tahun 2021, menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% secara nasional melalui pendekatan multisektor. Namun, perjuangan untuk mencapai target ini tidak mudah. Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi pada anak-anak, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, termasuk pola asuh yang tidak tepat, pendidikan orang tua yang rendah, pendapatan keluarga yang terbatas, dan minimnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Di Ogan Ilir, sebuah studi eksplanatif kuantitatif yang dilakukan pada tahun 2023 mengungkapkan gambaran yang lebih mendalam mengenai hubungan antara kondisi sosial ekonomi keluarga petani dan kejadian stunting pada anak-anak mereka. Hal inilah yang membuat Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat topik terkait stunting dalam penelitian disertasinya. Pendidikan dan Pengetahuan Ibu: Kunci Penentu Gizi Anak Dalam studi yang melibatkan responden perempuan di Kabupaten Ogan Ilir, terungkap bahwa mayoritas ibu tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sumber gizi untuk balita mereka. Sebanyak 61,4% ibu hanya berpendidikan setingkat SD, dan ini berdampak pada pemahaman mereka tentang gizi keluarga. Tabel 3 dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 29 dari 44 responden tidak tahu cara menghitung kebutuhan kalori harian anak-anak mereka. Ini berarti banyak anak-anak balita di wilayah ini mungkin tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pemenuhan gizi anak-anak. Sebanyak 79,6% keluarga petani di Ogan Ilir hidup dengan pendapatan bulanan yang sangat terbatas, antara Rp 1.000.000 hingga Rp 2.000.000. Dengan pendapatan yang terbatas, keluarga-keluarga ini harus membuat keputusan sulit tentang prioritas pengeluaran rumah tangga. Meskipun mayoritas ibu sepakat untuk memberi makanan yang lebih bergizi saat memiliki uang, namun ketika keuangan menipis, kebutuhan lain sering kali diprioritaskan dibandingkan dengan makanan bergizi untuk balita. Nico menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ibu berusaha menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak mereka, pilihan makanan tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. terlihat bahwa banyak keluarga cenderung menyesuaikan jenis makanan yang disajikan sesuai dengan anggaran yang ada. Prioritas utama dalam keuangan keluarga sering kali tidak mencakup makanan bergizi bagi anak-anak, melainkan kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Kebiasaan Konsumsi yang Berisiko Selain masalah ekonomi, pola konsumsi keluarga juga berperan besar dalam kejadian stunting. Banyak keluarga petani di Ogan Ilir tidak memiliki jadwal makan yang teratur untuk balita mereka, dan sering kali anak-anak dipaksa makan meskipun sedang tidak berselera. Dalam situasi tertentu, ibu-ibu bahkan lebih memilih menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum memberi makan anak-anak, yang tentu saja berdampak buruk bagi perkembangan anak. Nico juga menunjukkan bahwa 72,7% keluarga memiliki jarak kelahiran antara 2 hingga 5 tahun, yang seharusnya memberikan cukup waktu bagi ibu untuk fokus pada kebutuhan gizi anak-anak mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Banyak ibu lebih memilih memberikan jajanan atau susu formula (sufor) sebagai pengganti makanan bergizi ketika anak-anak mereka menolak makan, sebuah kebiasaan yang justru memperburuk kondisi kesehatan anak. Budaya dan Nilai Sosial yang Mempengaruhi Pola Asuh Budaya juga menjadi faktor signifikan dalam perilaku pemberian makan pada balita. Di Ogan Ilir, pola asuh balita sering kali didasarkan pada tradisi yang diwariskan oleh orang tua atau lingkungan sekitar. Sebagai contoh, banyak ibu lebih memilih memberikan makanan yang sama dengan yang dimakan oleh anggota keluarga lainnya, meskipun makanan tersebut mungkin tidak memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Data menunjukkan bahwa budaya patriarki di wilayah ini juga memengaruhi distribusi makanan dalam keluarga, dengan ayah sering kali diprioritaskan dalam hal makanan, sementara anak-anak harus puas dengan sisa makanan yang ada. Budaya seperti ini tentu menambah kompleksitas dalam upaya penurunan prevalensi stunting. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama mengakar sering kali sulit diubah, meskipun sebenarnya berdampak negatif terhadap kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, intervensi kesehatan dan gizi yang dilakukan harus memperhitungkan aspek budaya lokal agar lebih efektif. Kesadaran dan Harapan untuk Masa Depan Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, studi ini juga mengungkapkan harapan. Mayoritas responden sepakat bahwa kondisi sosial ekonomi keluarga mereka berperan dalam kejadian stunting pada anak-anak. Ini menunjukkan bahwa, meskipun kesulitan ekonomi dan budaya yang mengakar kuat, para ibu petani di Ogan Ilir sadar akan pentingnya memperbaiki perilaku gizi keluarga. Pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk menurunkan prevalensi stunting, termasuk program Keluarga Berencana (KB), penyediaan air bersih, dan sanitasi. Namun, untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14% secara nasional, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan integratif. Program-program ini harus mencakup penyuluhan yang lebih intensif tentang pentingnya gizi seimbang, terutama bagi ibu-ibu di pedesaan. Penyediaan makanan tambahan untuk balita dan peningkatan pendidikan gizi bagi keluarga-keluarga petani juga menjadi langkah yang krusial. Pengetahuan ibu tentang nutrisi harus ditingkatkan agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memberikan makanan untuk anak-anak mereka. Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa intervensi kesehatan dilakukan secara merata di seluruh daerah, terutama di wilayah pedesaan yang masih banyak tertinggal dalam hal akses terhadap layanan kesehatan. Stunting adalah ancaman serius bagi masa depan anak-anak di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan seperti Ogan Ilir. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak-anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan daya saing mereka di masa depan. Dengan upaya terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai sektor terkait, diharapkan masalah stunting dapat segera diatasi, dan generasi mendatang dapat tumbuh dengan sehat dan kuat. Namun, ini bukan hanya soal kebijakan dan program. Ini juga soal perubahan perilaku, peningkatan kesadaran, dan kesediaan untuk merombak kebiasaan lama yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman. Perjuangan melawan stunting adalah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih
Model Rakitan Teknologi Peningkatan Kualitas dan Produksi Madu Mellifera Dengan Pakan Tanaman Akasia

Kegiatan beternak lebah madu Mellifera semakin banyak dilakukan oleh masyarakat di Provinsi Riau. Salah satu daerah yang paling banyak dijadikan sebagai lokasi beternak lebah ini adalah Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak. Alasan pemilihan lokasi tersebut oleh peternak lebah adalah ketersediaan sumber pakan yang melimpah bagi lebah, yaitu hamparan tanaman di Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit. Tanaman pokok di HTI pada lahan gambut di Kabupaten Siak adalah Acacia crassicarpa (Akasia), yang merupakan sumber pakan potensial bagi lebah Mellifera, karena jumlahnya ribuan hektar dan menghasilkan nektar dari pangkal daunnya sepanjang tahun dan tidak mengenal musim. Penelitian sebelumnya menunjukkan umur pohon akasia yang berbeda menghasilkan jumlah nektar yang berbeda pula. Perbedaan tersebut diduga akan mempengaruhi produktivitas dan kualitas madu yang dihasilkan. Peternak lebah madu Mellifera di Kabupaten Siak menghadapi permasalahan kualitas madu yang sering belum memenuhi standar SNI 8664-2018 secara keseluruhan variable kualitas dan produksi madu yang masih fluktuatif. Faktor-faktor yang kemungkinan mempengaruhi kualitas dan produksi madu adalah waktu panen, tanaman sumber pakan, dan manajemen peternakan. Berdasarkan faktor penyebab tersebut, Eni Suhesti mengangkat tema tersebut dalam sebuah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu panen, umur pohon akasia, dan interaksi keduanya terhadap kualitas dan produksi madu lebah Mellifera serta menyusun model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu berdasarkan waktu panen, umur pohon akasia dan pengetahuan lokal peternak dalam pengelolaan peternakan lebah Mellifera. Mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini membagai penelitiannya dalam beberapa tahap dimana tahap pertama Eny melakukan survey komposisi dan produksi nektar dari pohon akasia berumur 3, 8, dan 18 bulan, serta karakteristik lingkungan lokasi peternakan lebah yang terdiri dari suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas cahaya matahari. Lalu ditahap II Eny melakukan eksperimen untuk menganalisis pengaruh waktu panen, umur pohon akasia dan interaksinya terhadap kualitas dan produksi madu Mellifera. Selanjutnay pada tahap ketiga ia menyusunan model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu Mellifera berdasarkan waktu panen terbaik, umur tanaman terbaik dan pengetahuan lokal peternak lebah madu Mellifera di Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Pada Tahap I Eny menemukan bahwa umur tanaman akasia berpengaruh nyata (dengan nilai P 0,05) terhadap komposisi nektar yang dihasilkan pada nilai gula total, kadar air, glukosa, sukrosa, dan keasaman, juga terhadap potensi produksi nektar rata-rata per tanaman per hari. Nilai gula total tertinggi terdapat pada tanaman berumur 3 bulan, kadar air tertinggi pada umur 18 bulan, glukosa tertinggi tanaman 3 bulan, sukrosa tertinggi pada tanaman 3 bulan, dan keasaman tertinggi pada tanaman 8 bulan. Potensi produksi nectar tertinggi pada tanaman berumur 6 bulan. Produksi nectar harian tertinggi pada pukul 6.30 terus menurun sampai 09.30. Pada pukul 10.30 sampai dengan 15.30 nektar tidak terukur, dan kembali meningkat mulai pukul 16.30 sampai 18.30. Pada Tahap II didapati bahwa umur tanaman akasia dan waktu panen serta interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas madu pada variable aktivitas enzim diastase, hidroxymetylfurfural (HMF), glukosa, sukrosa, kadar air dan keasaman madu. Umur tanaman berpengaruh nyata, tetapi waktu panen tidak berpengaruh terhadap produksi madu. Variabel kualitas madu yang memenuhi standar SNI 8664-2018 adalah : aktivitas enzim diastase dengan waktu panen 30 hari pada umur tanaman 3 bulan, panen 21 hari pada umur tanaman tanaman 8 bulan. Variabel keasaman tidak ada yang memenuhi standar. Produksi 8 bulan, dan panen 14 hari pada tanaman 18 bulan. Variabel HMF semua waktu panen untuk semua umur tanaman. Variabel kadar air panen 30 hari dengan umur tanaman 3 dan 18 bulan. Kandungan sukrosa pada waktu panen 30 hari dengan umur tanaman 8 dan 18 bulan, glukosa hanya pada panen 30 hari dengan umur madu tertinggi terdaat pada umur tanaman 18 bulan, yaitu rata-rata 4,35 kg/stup. Tahapan penelitian ke III menghasilkan model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu dengan 5 tahapan, yaitu persiapan lokasi, persiapan kotak pemeliharaan (stup) dan koloni lebah, penempatan koloni, perawatan, pemanenan dan pascapanen. Lokasi yang baik untuk beternak A.mellifera adalah yang menyediakan tanaman sumber pakan yang cukup, yaitu A.crassicarpa berumur 8 samapai 8 bulan dan tanaman sumber pollen seperti rumput-rumputan dan kelapa sawit. Stup yang baik untuk menghasilkan madu yang berkualitas dan produksi tinggi adalah stup (kotak) “super”, yaitu yang terpisah antara tempat madu dengan ratu dan telur atau larva. Pemilihan koloni lebah yang baik adalah yang sehat, memiliki ukuran tubuh yang besar, lincah dan bebas hama penyakit. Pelatakkan kotak-kotak lebah dilakukan secara teratur dan berkelompok supaya perawatan dan pemanenan dapat dilakukan dengan mudah. Tahap keempat adalah perawatan koloni lebah dari hama, kondisi iklim mikro dan pestisida. Tahap kelima adalah penentuan waktu panen madu terbaik, yaitu 30 hari. Melalui hasil yang sudah didapatkan Eny menyimpulan bahwa waktu panen madu berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas madu, namun tidak berpengaruh terhadap produksi madu. Selain itu umur tanaman akasia sebagai sumber nektar utama bagi lebah berpengaruh nyata terhadap kualitas dan produksi madu, umur terbaik adalah 8 dan 18 bulan serta model rakitan teknologi untuk peningkatan kualitas dan produksi madu Mellifera adalah waktu panen minimal 30 hari dengan tanaman Akasia 8 sampai 18 bulan, dan manajemen peternakan lebah yang meliputi penyusunan sisiran lebah dengan tepat, cara dan waktu pemanenan yang optimal, penggunaan kotak lebah super, dan perawatan koloni dari gangguan hama dan cuaca, serta pengkayaan tanaman sumber pollen. Eny berharap dari penelitian ini bisa bermanfaat bagi peternak lebah madu Mellifera pada kawasan hutan rawa gambut dengan tanaman akasia dalam menentukan waktu panen madu terbaik, pemilihan umur tanaman terbaik dan manajemen peternakan terbaik untuk menghasilkan madu berkualitas dengan produksi optimal. Juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang peternakan lebah madu Mellifera pada hutan tropis khususnya lahan rawa gambut. ****) Oleh: Eni Suhesti, Mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah
Strategi Dalam Konservasi Burung Pada Berbagai Habitat di Kota Pekanbaru

TIMESINDONESIA, MALANG – Burung merupakan bagian penting dari sistem ekologi yang berperan dalam menjaga kelangsungan siklus kehidupan organisme. Hal ini terlihat dari peran burung dalam rantai makanan dan jaringan kehidupan, yang menghubungkannya dengan elemen sistem ekologi lainnya seperti flora dan insekta. Hal tersebut menjadikan burung, pada lingkungan cukup fundamental karena dapat memengaruhi eksistensi dan distribusi berbagai flora. bitat burung bisa meliputi berbagai sistem ekologi baik natural maupun artifisial. Distribusi yang cukup besar membuat burung sebagai aset hidup Indonesia. Selain memiliki peran dalam keselarasan sistem ekologi burung bisa sebagai parameter perubahan lingkungan. Habitat yang bervariasi akan berpengaruh terhadap keberagaman jenis burung. Habitat untuk satwa liar lazimnya berperan sebagai area berburu pakan, air, istirahat, dan berkembang biak Tutupan lahan Provinsi Riau beberapa tahun terkahir ini telah mengalami perubahan dari lingkungan berhutan menjadi peruntukan lain. Perubahan tutupan lahan tersebut didominasi oleh hutan tanaman dan perkebunan yang cenderung homogen. Kondisi tersebut berdampak pada habitat burung yang terus berkurang. Hal ini diduga akan mempengaruhi keanekaragaman jenis burung. Pekanbaru sebagai Ibu Kota Provinsi Riau tengah mengembangkan dan membangun berbagai bidang. Letak Kota Pekanbaru yang berada di tengah yang dikelilingi oleh beberapa kabupaten. Kondisi tutupan lahan eksisting wilayah kabupaten tersebut didominasi oleh hutan yang di tanam untuk keperluan industri dan tanaman kelapa sawit yang monokultur/homogen. Berdasar pada hal tersebut akan mengancam keberadaan kawasan hijau sebagai tempat hidup burung. Berkurangnya tutupan lahan heterogen yang terjadi di Provinsi Riau dapat menyebabkan perpindahan burung (migrasi lokal). Kota Pekanbaru yang terletak di tengah provinsi dan masih memiliki berbagai tutupan lahan, akan menjadi tujuan perpindahan burung. Untuk mengatasi agar keberadaan jenis burung tetap lestari diperlukan upaya strategi konservasi burung pada berbagai habitat di Kota Pekanbaru. Adanya fenomena tersebut membuat Hadinoto, salah satu mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang menjadikan tema akan strategi konservasi burung yang ada di Pekanbaru dalam penelitiannya. Menggunakan data yang dikumpulkan dengan cara survey lapangan mulai dari jenis burung, vegetasi dan persepsi masyarakat serta dianlisis menggunakan Analisa SWOT. Hadinoto mengidentifikasi burung di 6 (enam) tipe habitat di Kota Pekanbaru ditemukan sebanyak 34 famili, 75 jenis dan 2244 ekor. Dari indentifikasi tersebut para burung ini memilih beberpa tempat yang sebagai tempat migrasinya didapatkan bahwa persepsi masyarakat terhadap burung di wilayah perkotaan secara umum “baik” dengan nilai rata-rata 104,03 (83,22%). Nilai tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pandangan positif terhadap burung dan pentingnya keberadaan serta peran mereka dalam ekosistem dan budaya manusia. Hadinoto juga menemukan Indeks keanekaragaman jenis pohon (H’) sebesar 3,39, indeks kemerataan (E) 0,93, dan indeks kekayaan jenis (R) 8,31. Didapatkan posisi strategi konservasi burung tersebut berada pada kuadran satu, merupakan posisi yang menguntungkan bagi pemerintah yang memiliki banyak kekuatan serta dapat memanfaatkan peluang yang ada dilingkungan eksternal. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung keberlanjutan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategi). Beberapa cara yang dilakukan antara lain pemanfaatan kekuatan internal, eksploitasi peluang pasar, inovasi dalam pemulihan habitat, edukasi kesadaran masyarakat, kolaborasi dan kemitraan. Mahasiswa yang akrab dipanggil pak Hadi ini berharap penelitiannya ini dapat menjadi bahan rujukan bagi dosen, mahasiswa, peneliti burung, lembaga penelitian pemerintah dan swasta terutama dalah hal data dan informasi bagi pemerintah dalam rangka mempopulerkan masyarakat cinta burung. Selain itu juga dapat menjadi sebagai salah satu rekomendasi bagi pemerintah dalam menyusun peraturan perundangan dalam konservasi burung. ****) Oleh: Hadinoto, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.
Pemanfaatan Lahan Suboptimal di Sumatera Selatan untuk Swasembada Pangan
Sumatera Selatan, dengan luas lahan rawa pasang surut lebih dari 1,3 juta hektar, memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian. Namun, sebagian besar lahan ini tergolong suboptimal, yang berarti lahan tersebut menghadapi berbagai tantangan lingkungan seperti kadar garam tinggi, kelebihan air, dan rendahnya kesuburan tanah. Kabupaten Banyuasin menjadi salah satu contoh nyata, dengan data pada tahun 2020 menunjukkan bahwa dari 28.230 hektar tanah terlantar, jumlah ini 49% lebih tinggi dibandingkan lahan yang telah dimanfaatkan untuk pertanian, baik tegalan maupun ladang. Lahan suboptimal, yang selama ini dianggap kurang produktif, justru dapat menjadi kunci dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Peningkatan produktivitas lahan dan adaptasi terhadap kondisi alam yang sulit menjadi fokus penting dalam pengembangan pertanian di wilayah ini. Salah satu komoditas yang sedang diuji untuk dibudidayakan di lahan suboptimal adalah bawang merah, yang merupakan tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Hal inilah yang menarik minat Eni Hawayanti, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini meneliti tentang pemanfaatan lahan suboptimal yang ada di Sumatera Selatan. Penelitian Tentang Pemanfaatan Lahan Suboptimal untuk Bawang Merah Penelitian untuk mengembangkan bawang merah di lahan suboptimal dilakukan dalam beberapa tahap eksperimen yang bertujuan menemukan metode terbaik untuk meningkatkan produktivitas di tanah yang sebelumnya sulit dimanfaatkan. Penelitian ini menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik dan NPK, serta pengujian beberapa varietas bawang merah untuk mengetahui respons tanaman terhadap kondisi lahan yang berbeda. Dalam penelitian tahap pertama, ditemukan bahwa dosis pupuk NPK dan pupuk organik limbah tanaman memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil produksi bawang merah. Hasil tertinggi dicapai dengan kombinasi penggunaan pupuk NPK sebanyak 25% dan pupuk organik limbah tanaman 10 ton per hektar. Pada dosis ini, produktivitas bawang merah mencapai 9,32 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan tanpa pupuk organik. Varietas Bawang Merah yang Tahan di Lahan Suboptimal Pada tahap kedua Erni berfokus pada pengujian daya tahan beberapa varietas bawang merah terhadap lahan suboptimal. Hasilnya, varietas Bima Brebes dan Sanren menunjukkan performa terbaik dengan produktivitas mencapai 11,36 ton per hektar dan 9,96 ton per hektar. Lahan kering masam, salah satu jenis lahan suboptimal, terbukti mampu menghasilkan 11,96 ton bawang merah per hektar, menjadikannya salah satu lahan paling produktif di antara lahan suboptimal lainnya. Tahap ketiga penelitian memperlihatkan bahwa pemberian pupuk organik limbah tanaman dalam jumlah yang tepat juga berpengaruh signifikan terhadap hasil bawang merah. Pemberian pupuk organik sebanyak 7,5 ton per hektar menghasilkan bobot umbi yang lebih berat, terutama pada varietas Bima Brebes dan Tajuk. Solusi untuk Mengatasi Tantangan Lahan Suboptimal Melalui hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lahan suboptimal untuk budidaya bawang merah di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, bukanlah sesuatu yang mustahil. Dukungan inovasi teknologi, seperti penggunaan pupuk organik dan pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi lahan yang kurang ideal, terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini dianggap tidak layak. Erni berhara hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi petani di wilayah tersebut, serta mendorong para peneliti dan pemerintah untuk terus mengembangkan solusi yang ramah lingkungan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. Dengan potensi besar yang dimiliki Sumatera Selatan, lahan suboptimal kini dapat bertransformasi menjadi tulang punggung produksi pertanian yang berkelanjutan. ****) Oleh: Eni Hawayanti, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang